Gempa bumi 7,4 SR yang terjadi di Sangihe dan Talaud menyebabkan kurang lebih 1410 rumah 96 gereja, 33 sekolah dan fasilitas lainnya hancur. Penyintas di beberapa tempat sampai saat ini masih tinggal di tenda – tenda pengungsian. Kondisi ini menyebabkan mereka mulai terserang penyakit, sementara persediaan makanan mulai habis karena sulitnya transportasi.
Pelkesi wilayah IV berencana membantu para penyintas di Sangihe dan Talaud, berkordinasi dengan Sinode Gereja Masehi Injili Talaud (GERMITA). Bantuan yang direncanakan berupa pelayanan kesehatan oleh tim kesehatan dari RSU Pancaran Kasih GMIM Manado dan RSU Bethesda GMIM Tomohon. Selain tim kesehatan, direncanakan juga untuk membantu makanan dan pakaian bagi penyintas. Bantuan akan diberikan di desa Melonguane, Mala, Lirung, Kabaruan, dll.
Kami mengharapkan bapak/ibu/sdr/I sekalian mendukung pelayanan Pelkesi wilayah IV, melalui bantuan obat – obatan, makanan dan pakaian. Bagi bapak/ibu di luar Manado/Minahasa/Bitung, mohon bantuannya dalam bentuk uang dan dikirimkan melalui rekening Pelkesi wilayah IV: BRI Cabang Tomohon, a.n. Dr.A.A.A. Lengkong, MPH. Nor Rek: 0649.01.000881.50.5
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi Sekretaris Pelkesi Wilayah IV: Henry Wenas, Hp: 081340759599, Flexi : 0431 3619438, email : wenas_henry@yahoo.co.id
Kamis, 19 Februari 2009
Selasa, 17 Februari 2009
Perkembangan Gempa di Sangihe dan Talaud, Sulawesi Utara
Gempa tektonik berkekuatan 7,4 SR mengguncang kabupaten Sangihe dan kepulauan Talaud Sulawesi Utara pada tanggal 12 Februari 2009. Menurut Direktur Tanggap Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sekitar 600 rumah rusak berat dan 1.400 rumah rusak ringan yang tersebar di 14 kecamatan (kompas 16 Februari 2009).
Pusat Penanggulangan Krisis Depkes melaporkan jumlah korban luka berat sebanyak 10 orang di Kab. Kep. Talaud, 5 orang di antaranya telah dirujuk ke RS Kandou Manado, dan 1 orang di rujuk ke RS Pancaran Kasih. Korban luka ringan sebanyak 32 orang di Kab. Kep. Talaud. Terjadi pengungsian sebanyak + 6.500 orang di Kab. Kep. Talaud. Sarana kesehatan yang rusak yaitu 2 Pustu rusak (Pustu Pangeran rusak berat, dan Pustu Peret rusak ringan), 2 unit Puskesmas rusak ringan (Puskesmas Beo, Puskesmas Kabaruan dan Puskesmas Damao) dan 1 unit RS rusak ringan (koridor salah satu polikliniknya ambruk dan dindingnya retak-retak).
Hingga hari ke lima pasca gempa, penduduk di lokasi gempa memilih tinggal di tenda – tenda darurat karena gempa susulan dengan kekuatan rata – rata diatas 5 SR masih sering terjadi. Sementara itu, distribusi bantuan logistik untuk tanggap darurat dari luar lokasi gempa tidak berjalan lancar karena masalah transportasi (sumber: www.ppk-depkes.org, kompas 16 Februari 2009).
Pusat Penanggulangan Krisis Depkes melaporkan jumlah korban luka berat sebanyak 10 orang di Kab. Kep. Talaud, 5 orang di antaranya telah dirujuk ke RS Kandou Manado, dan 1 orang di rujuk ke RS Pancaran Kasih. Korban luka ringan sebanyak 32 orang di Kab. Kep. Talaud. Terjadi pengungsian sebanyak + 6.500 orang di Kab. Kep. Talaud. Sarana kesehatan yang rusak yaitu 2 Pustu rusak (Pustu Pangeran rusak berat, dan Pustu Peret rusak ringan), 2 unit Puskesmas rusak ringan (Puskesmas Beo, Puskesmas Kabaruan dan Puskesmas Damao) dan 1 unit RS rusak ringan (koridor salah satu polikliniknya ambruk dan dindingnya retak-retak).
Hingga hari ke lima pasca gempa, penduduk di lokasi gempa memilih tinggal di tenda – tenda darurat karena gempa susulan dengan kekuatan rata – rata diatas 5 SR masih sering terjadi. Sementara itu, distribusi bantuan logistik untuk tanggap darurat dari luar lokasi gempa tidak berjalan lancar karena masalah transportasi (sumber: www.ppk-depkes.org, kompas 16 Februari 2009).
Senin, 12 Januari 2009
Perkembangan Gempa di Manokwari dan sekitarnya
Pusat Pengendalian Krisis (PPK) Depkes melaporkan gempa susulan di Kab. Manokwari, Kota Sorong dan Kab. Sorong Prov. Papua Barat serta Kab. Biak Prov. Papua masih terus berlangsung. Berdasarkan laporan BMKG sejak gempa pertama terjadi di Kab. Manokwari Prov. Papua Barat hingga tanggal 9 Januari 2009 telah terjadi 81 kali gempa bumi tektonik susulan yang berkisar antara 5,0 hingga 7,6 SR.
Gempa ini telah memakan korban jiwa 4 orang, sedangkan korban yang dirawat inap sebanyak 37 orang yang 8 orang di antaranya telah menjalani operasi di RSUD Manokwari, korban yang dirawat jalan sebanyak 581 orang, serta pengungsi sebanyak 17.499 orang. Sebelumnya, dilaporkan Kejadian tersebut menyebabkan kerusakan rumah penduduk, fasilitas umum dan infrastruktur, dengan rincian Kab. Manokwari sebanyak 4.581 unit rumah rusak (3.043 unit rusak berat dan 1.538 unit rusak ringan), 124 unit tempat ibadah rusak (73 unit rusak ringan dan 51 unit rusak berat), 47 unit kantor pemerintah rusak (3 unit rusak ringan dan 44 unit rusak berat) dan 64 unit sarana pendidikan rusak (30 unit rusak ringan dan 34 unit rusak berat), Kab. Sorong sebanyak 632 unit rumah rusak (52 unit rusak berat, 140 unit rusak sedang dan 440 unit rusak ringan), 9 unit tempat ibadah rusak, 3 unit sarana pendidikan rusak, 2 unit kantor pemerintah rusak, 2 unit rumah guru rusak, 8 unit jembatan rusak dan rusaknya ruas jalan sepanjang 87 km, serta Kota Sorong sebanyak 453 unit rumah rusak (346 unit rusak berat dan 107 unit rusak ringan), 19 unit tempat ibadah rusak (13 unit rusak berat dan 6 unit rusak ringan), 2 unit sarana pendidikan rusak berat dan 2 unit kantor pemerintah rusak ringan.
Sementara itu, Dr. Alfred Bandaso hari ini menginformasikan banyak warga masyarakat ketakutan dan memilih tidur di luar rumah karena gempa susulan yang terus – menerus terjadi. Hal ini potensial menyebabkan mereka diserang penyakit seperti malaria,dll.
Gempa ini telah memakan korban jiwa 4 orang, sedangkan korban yang dirawat inap sebanyak 37 orang yang 8 orang di antaranya telah menjalani operasi di RSUD Manokwari, korban yang dirawat jalan sebanyak 581 orang, serta pengungsi sebanyak 17.499 orang. Sebelumnya, dilaporkan Kejadian tersebut menyebabkan kerusakan rumah penduduk, fasilitas umum dan infrastruktur, dengan rincian Kab. Manokwari sebanyak 4.581 unit rumah rusak (3.043 unit rusak berat dan 1.538 unit rusak ringan), 124 unit tempat ibadah rusak (73 unit rusak ringan dan 51 unit rusak berat), 47 unit kantor pemerintah rusak (3 unit rusak ringan dan 44 unit rusak berat) dan 64 unit sarana pendidikan rusak (30 unit rusak ringan dan 34 unit rusak berat), Kab. Sorong sebanyak 632 unit rumah rusak (52 unit rusak berat, 140 unit rusak sedang dan 440 unit rusak ringan), 9 unit tempat ibadah rusak, 3 unit sarana pendidikan rusak, 2 unit kantor pemerintah rusak, 2 unit rumah guru rusak, 8 unit jembatan rusak dan rusaknya ruas jalan sepanjang 87 km, serta Kota Sorong sebanyak 453 unit rumah rusak (346 unit rusak berat dan 107 unit rusak ringan), 19 unit tempat ibadah rusak (13 unit rusak berat dan 6 unit rusak ringan), 2 unit sarana pendidikan rusak berat dan 2 unit kantor pemerintah rusak ringan.
Sementara itu, Dr. Alfred Bandaso hari ini menginformasikan banyak warga masyarakat ketakutan dan memilih tidur di luar rumah karena gempa susulan yang terus – menerus terjadi. Hal ini potensial menyebabkan mereka diserang penyakit seperti malaria,dll.
Selasa, 06 Januari 2009
Gempa 7,6 Skala Ritcher Mengguncang Manokwari.
Gempa berkekuatan 7,6 pada skala Ritcher terjadi susul menyusul di Manokwari Papua Barat 4 Januari 2009. Sejumlah infrastruktur di Manokwari rusak akibat gempa. Termasuk bandara Manokwari, Rendani, yang landasannya retak hingga menggangu penerbangan. Sampai saat ini, informasi yang diterima belum lengkap. Presiden RI, Susilo Bambang Youdoyhono sendiri mengaku belum memperoleh informasi yang lengkap mengenai jumlah korban. Sejauh ini korban meninggal yang diketahui empat orang. Walaupun demikian, presiden mengutus tiga menteri yaitu Menteri Dalam Negeri, Menteri Sosial, dan Menteri Perhubungan, untuk melakukan tanggap darurat di Manokwari dan Sorong.
Dr. Alfred Bandaso, Ketua Pelkesi wilayah V menginformasikan korban meninggal di kota Manokwari sebanyak 1 orang, korban luka berat dan ringan 36 orang, serta banyak rumah yang roboh akibat gempa. Akan tetapi korban di pedalaman belum diketahui pasti karena sulitnya akses ke daerah – daerah tersebut (sumber: TEMPO Interaktif, informasi lisan dari Dr. Alfred Bandaso).
Dr. Alfred Bandaso, Ketua Pelkesi wilayah V menginformasikan korban meninggal di kota Manokwari sebanyak 1 orang, korban luka berat dan ringan 36 orang, serta banyak rumah yang roboh akibat gempa. Akan tetapi korban di pedalaman belum diketahui pasti karena sulitnya akses ke daerah – daerah tersebut (sumber: TEMPO Interaktif, informasi lisan dari Dr. Alfred Bandaso).
Kamis, 20 November 2008
Penanggulangan Bencana dalam Dunia Kesehatan
Benarkah sektor kesehatan sering 'berjalan sendiri' dalam penanggulangan bencana di Indonesia? Pertanyaan menggelitik ini dikemukakan MPBI (Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia) pada Workshop Penanggulangan Bencana dalam Dunia Kesehatan yang berlangsung di Hotel Ibis Tamarin Jakarta, 17-19 November 2008. Workshop ini diselenggarakan oleh MPBI bekerjasama dengan Oxam, dan diikuti berbagai elemen baik masyarakat sipil maupun pemerintah yang bekerja di sektor kesehatan. Peserta kurang lebih 20 orang, perwakilan RSU, Dinas Kesehatan, Fakultas Kedokteran, dan beberapa organisasi profesi, faith based maupun LSM seperti IDI, Pelkesi, Muhamadiyah, Bulan Sabit merah Indonesia dan Surf Aid.
Lokakarya diiisi dengan pemaparan informasi dari narasumber, sharing pengalaman, diskusi kelompok dan penyusunan rekomendasi. Pada sesi pertama, dr Rustam Pakaya MPH, kepala Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) Depkes memaparkan strategi, program maupun kegiatan pemerintah (Depkes) dalam penanggulangan bencana khusus kesehatan. Dijelaskan bahwa penanggulangan penyakit menular, gizi buruk dan krisis kesehatan akibat bencana merupakan satu dari lima kegiatan prioritas Depkes. PPK sendiri mengeluarkan kebijakan yang menitikberatkan pada upaya sebelum terjadi bencana (pra bencana) seperti menyusun peraturan, pedoman dan protap, mengembangkan sistem informasi dan komunikasi, sosialisasi program penanggulangan krisis, kesiapsiagaan dengan melatih "pemuda siaga peduli bencana (Dasipena)",dll. selain kegiatan yang dilakukan narasumber juga memaparkan kendala yang dihadapi antara lain sistem informasi yang belum berjalan dengan baik, mekanisme koordinasi, mobilisasi bantuan yang terhambat transportasi, sistem pembiayaan yang belum mendukung, sistem kewaspadaan dini belum berjalan dengan baik dan keterbatasan logistik.
Setelah pemaparan Depkes, Bpk Sudibyo Markus dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), memberi masukan mengenai peran masyarakat sipil dalam pemberdayaan penanganan kedaruratan medis. Upaya penanganan medis yang diusulkan antara lain kesiap-siagaan dimana penanganan bencana menjadi bagian integral dari pengembangan sistem kesehatan nasional. Dalam hal ini, penting dipertimbangkan program Desa Siaga. Selain kesiap-siagaan, upaya selanjutnya adalah kedaruratan medis berupa unit gawat darurat RS lapangan, mobile/ambulatory services dan relawan medis.
Nara sumber lain yang memberi masukan penting dalam lokakarya adalah Nur Hidayati dari CSO Forum for Climate Change, yang memaparkan mengenai Perubahan Iklim dan Eko Teguh Paripurno dari Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta, dengan materi Peredaman Risiko bencana dari global, nasional dan komunitas. Perubahan iklim ditengarai mengakibatkan meningkatnya berbagai penyakit seperti penyakit menular yang disebabkan oleh vektor, penyakit - penyakit infeksi, diareal, dan kekurangan gizi. Sedangkan Pak Eko Teguh memaparkan bagaimana meredam resiko bencana melalui mitigasi maupun upaya mengurangi kerentanan. Bencana menurutnya memiliki kaitan erat dengan pembangunan. Disatu sisi, pembangunan dapat meningkatkan kerentanan namun juga mengurangi kerentanan. Di sisi lain, bencana dapat memundurkan pembangunan, namun dapat juga memberi peluang pembangunan.
Untuk mendapatkan gambaran riil, peserta mendiskusikan topik bencana dan pembangunan dengan mengambil studi kasus kesehatan dan rencana apa yang diusulkan untuk mengatasi masalah kesehatan dalam penanggulangan bencana. Rencana ini kemudian disesuaikan dengan lima point yang direncanakan sebagai rencana aksi nasional penanggulangan bencana, meliputi unsur lembaga, pengkajian resiko, pengetahuan/pendidikan, pengurangan resiko, dan kesiap siagaan.Setelah mendapat masukan dari nara sumber, dan diskusi, peserta kemudian difasilitasi untuk share satu sama lain, khususnya pengalaman penanggulangan bencana yang telah dilakukan maupun rencana ke depan. Dari sharing, beberapa hal yang menonjol antara lain perlunya kerja sama dan jejaring dalam penanggulangan bencana,penekanan pada aspek pengurangan resiko bencana khusus medis, penanganan pasca bencana khususnya kesehatan mental (traumatic healing), pengembangan obat tradisional dalam bencana, dll.
Lokakarya diakhiri dengan penyusunan pokok-pokok rekomendasi antara lain networking melalui mailing list, forum berkala, sosialisasi SOP Depkes (vocal point: IDI), sosialisasi perubahan paradigma bencana, simulasi penanganan kepada semua stake holder, serta mendorong adanya aturan mengenai rumah sakit dengan standard HOPE (hospital preparedness on emergency).Semoga proses dan rekomendasi ini membuat sektor kesehatan lebih terlihat perannya sebagai bagian dari masyarakat sipil yang bekerja sama dengan sektor lain dalam penanggulangan bencana (Vivi)
Lokakarya diiisi dengan pemaparan informasi dari narasumber, sharing pengalaman, diskusi kelompok dan penyusunan rekomendasi. Pada sesi pertama, dr Rustam Pakaya MPH, kepala Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) Depkes memaparkan strategi, program maupun kegiatan pemerintah (Depkes) dalam penanggulangan bencana khusus kesehatan. Dijelaskan bahwa penanggulangan penyakit menular, gizi buruk dan krisis kesehatan akibat bencana merupakan satu dari lima kegiatan prioritas Depkes. PPK sendiri mengeluarkan kebijakan yang menitikberatkan pada upaya sebelum terjadi bencana (pra bencana) seperti menyusun peraturan, pedoman dan protap, mengembangkan sistem informasi dan komunikasi, sosialisasi program penanggulangan krisis, kesiapsiagaan dengan melatih "pemuda siaga peduli bencana (Dasipena)",dll. selain kegiatan yang dilakukan narasumber juga memaparkan kendala yang dihadapi antara lain sistem informasi yang belum berjalan dengan baik, mekanisme koordinasi, mobilisasi bantuan yang terhambat transportasi, sistem pembiayaan yang belum mendukung, sistem kewaspadaan dini belum berjalan dengan baik dan keterbatasan logistik.
Setelah pemaparan Depkes, Bpk Sudibyo Markus dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), memberi masukan mengenai peran masyarakat sipil dalam pemberdayaan penanganan kedaruratan medis. Upaya penanganan medis yang diusulkan antara lain kesiap-siagaan dimana penanganan bencana menjadi bagian integral dari pengembangan sistem kesehatan nasional. Dalam hal ini, penting dipertimbangkan program Desa Siaga. Selain kesiap-siagaan, upaya selanjutnya adalah kedaruratan medis berupa unit gawat darurat RS lapangan, mobile/ambulatory services dan relawan medis.
Nara sumber lain yang memberi masukan penting dalam lokakarya adalah Nur Hidayati dari CSO Forum for Climate Change, yang memaparkan mengenai Perubahan Iklim dan Eko Teguh Paripurno dari Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta, dengan materi Peredaman Risiko bencana dari global, nasional dan komunitas. Perubahan iklim ditengarai mengakibatkan meningkatnya berbagai penyakit seperti penyakit menular yang disebabkan oleh vektor, penyakit - penyakit infeksi, diareal, dan kekurangan gizi. Sedangkan Pak Eko Teguh memaparkan bagaimana meredam resiko bencana melalui mitigasi maupun upaya mengurangi kerentanan. Bencana menurutnya memiliki kaitan erat dengan pembangunan. Disatu sisi, pembangunan dapat meningkatkan kerentanan namun juga mengurangi kerentanan. Di sisi lain, bencana dapat memundurkan pembangunan, namun dapat juga memberi peluang pembangunan.
Untuk mendapatkan gambaran riil, peserta mendiskusikan topik bencana dan pembangunan dengan mengambil studi kasus kesehatan dan rencana apa yang diusulkan untuk mengatasi masalah kesehatan dalam penanggulangan bencana. Rencana ini kemudian disesuaikan dengan lima point yang direncanakan sebagai rencana aksi nasional penanggulangan bencana, meliputi unsur lembaga, pengkajian resiko, pengetahuan/pendidikan, pengurangan resiko, dan kesiap siagaan.Setelah mendapat masukan dari nara sumber, dan diskusi, peserta kemudian difasilitasi untuk share satu sama lain, khususnya pengalaman penanggulangan bencana yang telah dilakukan maupun rencana ke depan. Dari sharing, beberapa hal yang menonjol antara lain perlunya kerja sama dan jejaring dalam penanggulangan bencana,penekanan pada aspek pengurangan resiko bencana khusus medis, penanganan pasca bencana khususnya kesehatan mental (traumatic healing), pengembangan obat tradisional dalam bencana, dll.
Lokakarya diakhiri dengan penyusunan pokok-pokok rekomendasi antara lain networking melalui mailing list, forum berkala, sosialisasi SOP Depkes (vocal point: IDI), sosialisasi perubahan paradigma bencana, simulasi penanganan kepada semua stake holder, serta mendorong adanya aturan mengenai rumah sakit dengan standard HOPE (hospital preparedness on emergency).Semoga proses dan rekomendasi ini membuat sektor kesehatan lebih terlihat perannya sebagai bagian dari masyarakat sipil yang bekerja sama dengan sektor lain dalam penanggulangan bencana (Vivi)
Senin, 17 November 2008
News : Gempa Bumi di Gorontalo
Hari ini (17/11) Gempa bumi sebesar 7,7 SR mengguncang Gorontalo. Data BMG menyebutkan gempa terjadi pukul 01.02 WITA. Pusat gempa terletak di 1.41 LU - 122.18 BT. Gempa terjadi pada kedalaman 10 km. Sementara ini 2 orang dipastikan meninggal, ratusan rumah rusak dan ratusan orang mengungsi.
Rabu, 12 November 2008
Ina TEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System)
Selasa, 11 November 2008, presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan Ina TEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) di Gedung Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Jakarta Pusat.
Ina TEWS menjadi alat yang memberikan peringatan, jika terjadi peristiwa gempa bumi. Alat itu akan menunjukkan apakah gempa yang terjadi berpotensi menimbulkan tsunami atau tidak. Dalam sambutannya, Presiden mengatakan, sistem ini diharapkan dapat mengurangi dampak tsunami. Keberadaan sistem ini wujud kemajuan dan kesiapsigaan Indonesia untuk mengurangi dampak gempa dan tsunami yang bisa timbul kapan saja dan dimana saja.
Berbagai bencana yang dialami, memberikan peringatan pada kita untuk waspada dan mempersiapkan diri secara dini. Pemerintah terus mengembangkan teknologi, alat dan peralatan serta sistem dan tatacara untuk menghadapi bencana alam. Namun, semuanya akan sia-sia jika tidak didukung sistem peringatan dini. (kompas.com)
Ina TEWS menjadi alat yang memberikan peringatan, jika terjadi peristiwa gempa bumi. Alat itu akan menunjukkan apakah gempa yang terjadi berpotensi menimbulkan tsunami atau tidak. Dalam sambutannya, Presiden mengatakan, sistem ini diharapkan dapat mengurangi dampak tsunami. Keberadaan sistem ini wujud kemajuan dan kesiapsigaan Indonesia untuk mengurangi dampak gempa dan tsunami yang bisa timbul kapan saja dan dimana saja.
Berbagai bencana yang dialami, memberikan peringatan pada kita untuk waspada dan mempersiapkan diri secara dini. Pemerintah terus mengembangkan teknologi, alat dan peralatan serta sistem dan tatacara untuk menghadapi bencana alam. Namun, semuanya akan sia-sia jika tidak didukung sistem peringatan dini. (kompas.com)
Langganan:
Postingan (Atom)

